Tata

image

Tata.
Panggil saja begitu. Gadis manis yg kunamai Tata. Nama panjangnya Lê tran ngọc Thảo. Terasa asing bukan? Yup… Kita memang berasal dari dua negara yg berbeda. Gadis itu berkewarganegaraan Vietnam. Hal paling penting yg menyatukan kita adalah sebuah kisah hidup yg hampir sama dan mungkin tak semua orang mampu menjalaninya. Begitu lah cara takdir Tuhan mendekatkanku dengannya.

Perkenalan singkatku dengannya bermula dari acara yg diadakan oleh universitas tempatku menimba ilmu. Perkenalan singkat yg sarat akan banyak makna bagiku. Berbaur dengannya selama satu minggu cukup memberiku makna tentang sebuah pesan bahwa diluar sana, disebagian bumi Tuhan lainnya masih ada yg menemui takdir yg sama. Bersyukur rasanya, ketika ada tempat untuk bercerita dgn seseorang yg benar-benar mengerti keadaannya. Untuk kemudian kami saling menerima dan berbagi bersama. [End].

Kamu, Jalan dan Kesimpulan

image

Disepertiga jalan panjangku, ada kamu di bahagian persimpanganku. Tempatmu? Persis seperti jalan buntu itu. Kamu yg datang dan kemudian menghilang, lebih mirip dengan metamorfosa yg gagal. Tatkala bicara tentang masa itu, kamu yg bertekad membersamai langkah-langkahku dan janjimu yg membuat ku mengiringi tapak-tapak perjuanganmu. Kadang pernah terpikir olehku, letak kesalahan panjang itu. Aku kah atau keadaannya yg memaksa ku? Hingga hari ini, belum kujumpai jawaban pasti atas semua tanyaku. Boleh jadi waktu dan keadaan yg salah, pun jika bukan sebut sajalah aku yg mengalah dan pasrah. Ah sudah lah…. Mengungkitmu hanya membuat keadaan menjadi pesakitan. Mengusik mimpi-mimpi indahku tentang tulang rusuk yg hendak mengajakku belajar bersama. Sebut saja namanya “dia”, wajah rupawan nan meneduhkan, berpenampilan rapi nan menggemaskan, menggenggam erat tanganku dengan cara yg halal, hingga memastikanku untuk tak menyerah di semua keadaan. 👫

Tempo Doeloe

image

Aahh! Greget rasanya, Aku masih saja mengidolakan profesi itu. Aku sudah menjadi pengagum rahasianya sejak belasan tahun lalu. Kala itu Aku masih di usia yg belia, tiap kali ditanya, “apa cita-cita mu, Nak?” atau “nanti kalo udah besar mau jadi apa?”. Kerap kali km jawab dengan spontan dan penuh antusias, “Aku mau jadi tentara” atau kadang Aku menjawabnya dengan “Aku mau jadi polwan”!
=::=
Yaaa…saat itu di usia yg belum bisa dikatakan remaja, Aku sangat mencintai profesi tersebut. Karena pada dasarnya Aku memang mencintai kedisplinan. Beranjak memasuki masa-masa puber dan seragam putih abu, Aku mulai menemukan jalanku. Aku ingin menyebarkan ilmu, lantas beralih alur memilih menjadi guru. Denganku penuh kemantapan hati Aku memutuskan untuk mengambil kuliah pendidikan dengan harapan nantinya Aku bisa menjadi guru yg menyenangkan.
=::=
Tapi kini ketika sudah memasuki tugas akhir yg menandai penghujung perkuliahan, Aku masih saja merindukan cita-cita lamaku. Meski akuu sadar bahwa tak mungkin lagi untuk ku bisa memasuki dunia itu. Namun harapanku masih membumbung tinggi, kecintaanku dengan profesi tersebut kerap kali berakhir dengan decak kagum tatkala bertemu dengan taruna-taruni yg berseragam rapi. Ah… Kerap kali inginku memutar kembali dan memilih mengabdi untuk menjadi bagian dari keluarga besar akademi. 🍁🍁🍂

Se[b]angsa dalam tawa

image

2012. Tahun pertama kita kenal, kala itu kita saling tersipu. Malu-malu yg endingnya malah sampe ngga tau malu. Tanya ini-itu hanya tau sisi-sisi baikmu.

2013. Kita semakin kenal, belajar paham. Bahwa paham dan memahami dua kata yg saling beriringan. Kita belajar banyak tentang toleransi untuk saling menerima dengan keterbukaan, pun di kadang hari ada diantara kita yg masih enggan untuk bercerita. Di tahun ini juga kita pindah ke “rumah”  indah kita. Sejenak meninggalkan zona nyaman kampus Muda Mendunia. Awalnya kita pikir, kita hanya singgah sebentar saja. Tapi kenyataan tidak demikian. Pahit memang (tapi tak sepahit rasa jomblo nano-nano 😂).

2014. Kita mulai kompak. Meski satu-persatu keluarga kita mulai tergusur hukum alam, tapi setidaknya kita pernah membersamai langkah-langkah awal mengukir Impian. Kita mulai tau kemana arah jalan pulang, kita juga tidak lupa kemana kelas yg kita tuju ketika KRS’an, karena kita sudah teramat paham kelas “B”  hanya satu diantara seribu. 😹 Di tahun ini pula, dosen-dosen lucu nan menggemaskan datang silih berganti, mewarnai teka-teki cerita kita di rumah persinggahan 🏠 rumah yg dulu kita dititipkan, pada akhirnya harus menerima kenyataan bahwa itu akan menjadi rumah terakhir kita hingga akhir pendadaran.

2015. Tahun dimana kita mulai lelah dan depresi dengan coretan warna-warni di kertas skripsi. Tahun dimana kebersamaan kita mulai gersang, ia kering kerontang kehausan kasih sayang. Kita mulai lupa diri, mulai menyukai petualangan sendiri agar dianggap mandiri. Nyawa-nyawa “kita”  menjadi hilang, beralih paham menjadi “aku”, “kamu”, dan “kalian”. Sungguh kawan, ini teramat mengecewakan.

2016. Riuh sorak-sorai. Handai taulan datang dari kampung halaman hendak meramaikan indahnya kelulusan. Kunamai ini sebagai tahun do’a di sepertiga malam. Ada yg terjaga, ada pula yg terlena. Pun ada juga yg tengah cinta dengan dunia barunya. Tapi sungguh, ini tak layak disebut kemenangan. Bagaimana mungkin kemenangan yg seharusnya membahagiakan akan ditukar dengan senyum pedih perpisahan dari masing-masing kita yg entah kapan lagi waktu akan berbaik hati mengizinkan kita untuk kembali bersama. 👫👬👭👬

🍬 Yogyakarta-Menyambung Tawa 🍬
Brilliant class #EFL #EnglishEducation

Tanggal delapan

image

Kala itu tepat dimana Aku memilih untuk pergi, bukan karena aku terlalu memaksa untuk menggapai mimpiku. Sungguh bukan karena itu! Aku memilih pergi untuk mencari jalanku, sebab kala itu tak satu pun kujumpai kepala-kepala hitam yg berani berkata jujur sesuai dengan kata hatinyaa.
***
Aku yg kala itu dianggap salah dan memang dipersalahkan, adalah aku yg berdiri disini hingga mencapai titik ini. Kata orang ini adalah titik yg membahagiakan. Bagiku bukan! Titik ini adalah titik yg menandai peluh-peluh yg bercucuran, langkah-langkah kami yg menapak berat di bumi, serta do’a-do’a yg alunkan pada semesta.
***
Bagiku ini adalah sepertiga dari titik tujuanku. Jalan panjang membentang luas di tanah lapang. Kakiku masih sanggup menapaki puncak-puncak pendakian. Lenganku masih kuat untuk menyongsong masa depan. Mimpiku adalah mimpi semesta, yg mencintai planet-planet tanpa lara. Membahagiakan mereka yg kusebut keluarga.
Aku mungkin pendeskripsian dari cahaya yg berbentuk bunga, pedarnya tak seterang bulan memang. Tapi ia terjaga hingga di waktu siang.

*🍬 Yogyakarta, 8 January *

Ia, Takdir, dan Do’a

image

Aku pernah berdo’a, meminta untuk melintasi jalan yg sama hingga kami menua,
Hingga pada akhirnya takdir mensyaratkan suara yg berbeda,
Menenggelamkan dongengku di lautan lepas hingga tandas,
Meluruhkan replita yg lagi bernyawa,
Impian atau pun harapan, keduanya mati ditengah jalan,
Hingga pada suatu masa, ku temukan kembali jalan pulang,
Walau dengan tuntunan tangan yg tak lagi sama,
Namun keduanya menyuarakan irama,
Meninggikan harapan dalam do’a,
Mentasbihkan cerita pada bait dongeng yg tertata.

*NB: Picture isn’t mine